DENNYSAM 2

Selamat Datang di SuperBlog Denny Sam. Saya membuat beberapa artikel yang perlu dan baik untuk disharing.

DENNYSAM

Selamat Datang di SuperBlog Denny Sam. Saya membuat beberapa artikel yang perlu dan baik untuk disharing.

DENNYSAM 3

Selamat Datang di SuperBlog Denny Sam. Saya membuat beberapa artikel yang perlu dan baik untuk disharing.

DENNYSAM 4

Selamat Datang di SuperBlog Denny Sam. Saya membuat beberapa artikel yang perlu dan baik untuk disharing.

DENNYSAM 5

Selamat Datang di SuperBlog Denny Sam. Saya membuat beberapa artikel yang perlu dan baik untuk disharing.

Internet Kecamatan (MPLIK) di Mata Masyarakat.

Guna mempercepat peningkatan keterjangkauan pemerataan layanan internet di masyarakat terpencil dan untuk mendorong perubahan daerah setempat, mencerdaskan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat; Kementerian Komunikasi dan Informasi (KEMKOMINFO) pada tahun 2011 telah meluncurkan program Mobil Pusat Layanan Internet Kecamatan (MPLIK). Ini merupakan gebrakan baru untuk memasyarakatkan internet dan meng-internet-kan masyarakat. MPLIK sebagai kelanjutan program Universal Service Obligation (USO Project) melalui PLIK–tanpa Mobil.
Showing posts with label MPLIK. Show all posts
Showing posts with label MPLIK. Show all posts

7 March 2015

KEMKOMINFO STOP MPLIK & PLIK serta Desa Berdering

Jangan Biarkan Yang Terpencil kian Terkucil
 
Mobil Internet Kecamatan


Jakarta - Layanan Universal Service Obligation (USO) yang bertujuan untuk mengurangi kesenjangan digital di daerah tertinggal akhirnya dihentikan sementara oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo).

Kepala Humas dan Pusat Informasi Kementerian Kominfo Ismail Chawidu mengatakan bahwa penghentian sementera ini sengaja dilakukan lantaran pelayanan USO yang telah berjalan dianggap kurang efektif.

"Maka untuk sementara layanan USO dihentikan (suspensi) guna mencegah munculnya potensi kerugian dari berbagai aspek," lanjutnya.

USO merupakan bagian dari kewajiban pemerintah dalam memberikan pelayanan universal di bidang telekomunikasi dan informatika kepada publik.

Kewajiban pelayanan tersebut dilakukan untuk mengurangi kesenjangan digital di daerah khususnya daerah pedesaan, tertinggal, dan terluar, yang secara ekonomi sulit dilakukan oleh penyelenggara telekomunikasi komersial.

Program Layanan USO selama ini diawali dengan layanan dasar (voice) hingga layanan data (internet) dengan kegiatan-kegiatan antara lain Desa Berdering, Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK) dan PLIK yang bersifat bergerak (MPLIK).

Pelayanan USO yang telah berjalan selama ini dilakukan dengan menggunakan model sewa layanan atau pengadaan barang jasa lainnya dari Penyedia USO.

Hingga saat ini, berdasarkan hasil monitoring evaluasi perkembangan layanan USO, dari sisi anggaran, realisasi rata-rata per tahun sampai dengan 2014 adalah 41%.

Dana USO sendiri berasal pelaku sektor telekomunikasi. Sumbangan yang lebih dikenal dengan nama dana USO besarannya adalah 1,25% dari pendapatan pelaku usaha.

Di luar USO, ada lagi pungutan Biaya Penyelenggaraan (BHP) Telekomunikasi sebesar 0,50% yang dianggap juga sebagai Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP).

Rancang Ulang

Selama masa penghentian sementara, dilakukan langkah-langkah evaluasi dan rancang ulang (redesign) program USO di tahun 2015.

Esensi utama rancang ulang adalah tetap melanjutkan program eksisting namun merubah mekanismenya, yaitu tidak lagi bersifat top down dari pusat ke daerah tetapi dari daerah ke pusat yang juga disesuaikan dengan kebutuhan daerah, dan juga berbasis pada kebutuhan kementerian dan lembaga lainnya serta kelompok masyarakat.

Selain itu, program USO masa datang tidak hanya mencakup pembangunan infrastruktur tetapi juga mencakup pengembangan ekosistem seperti pemberdayaan masyarakat, pengembangan konten dan aplikasi.

Konsep rancang ulang juga bersifat clustering, yaitu sesuai dengan kondisi dan kesiapan masing-masing daerah. Untuk memudahkan monitoring dan evaluasi, rancang ulang program USO melibatkan pula partisipasi aktif seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan.

Rancang ulang program USO direncanakan selesai sampai tahun 2015. Pemerintah menyiapkan pula rancangan utama (Grand Design) program USO dengan asumsi bahwa UU No.36 Tahun 1999 diganti dengan UU Telekomunikasi yang baru atau UU Konvergensi.

Di antara isu penting yang dipertimbangkan pada legislasi yang baru itu adalah model kontribusi USO yang disesuaikan dengan dinamika industri telekomunikasi dan informatika dalam pengembangan pembangunan infrastruktur serta ekosistem di daerah-daerah yang secara ekonomi kurang menguntungkan.


Rapat Kerja
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Komisi I menggelar rapat kerja  (raker) bersama Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo), yang bertempat di Ruang Rapat Komisi I, Gedung Nusantara II DPR RI pada Selasa (27/1). Agenda rapat kerja tersebut membahas tentang Kebijakan Bidang Komunikasi dan Informasi, Kebijakan Anggaran Komunikasi dan Informasi, Program Legislasi di Bidang Kominfo Tahun 2015-2019 dan Kebijakan Pengelolaan Dana USO. Dalam rapat tersebut, Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara menjelaskan tentang Kebijakan dan Rencana Kerja Kemenkominfo tahun 2015-2019. Selanjutnya Komisi I DPR RI akan melakukan pembahasan lanjutan mengenai  RKA/KL APBN-P Kemenkominfo TA 2015 dan Rencana Pita Lebar Indonesia.


Komisi I DPR RI juga akan membentuk Panja Universal Service Obligation (USO) untuk dibahas bersama Kemenkominfo mengenai Grand Desain Pemanfaatan Dana USO, serta membahas anggaran Pusat Layanan Internet Kecamatan/Mobile Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK/MPLIK) yang statusnya belum dapat dicairkan (diblokir). Komisi I DPR RI juga akan mengajukan RUU tentang Penyiaran dan RUU tentang Radio Televisi Republik Indonesia (RUU RTRI) sebagai prioritas Prolegnas tahun 2015.

Selanjutnya, Kemenkominfo akan mengajukan RUU Revisi Undang-Undang Nomor 36 tahun 1999 tentang Telekomunikasi, dan RUU Perlindungan Data Pribadi. Kemenkominfo dan Komisi I DPR menjalin kesepakatan untuk melakukan revisi (terbatas) UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi  Elektronik yang diusulkan menjadi inisiatif Pemerintah. Komisi I DPR meminta kepada Kemenkominfo untuk membuat Sistem Keamanan Siber Nasional (National Cyber Security)sehingga negara mempunyai kemampuan untuk  mengantisipasi berbagai kejahatan atau perang siber yang berpotensi mengancam system Keamanan Siber Nasional. Berkaitan dengan hal tersebut Komisi I DPR RI meminta Kemenkominfo untuk berkoordinasi dengan Kementerian Pertahanan, Lembaga Sandi Negara, Badan Intelijen Negara dan lembaga atau kementerian terkait lainnya, untuk menyiapkan RUU tentang Keamanan Cyber Nasional ke dalam Prolegnas 2015-2019. Dalam rapat ini juga, Komisi I DPR meminta Menkominfo untuk memperdalam serta mempelajari peluang Addendum Soft Loan Projek Improvement on TV Transmitting Stations (ITTS-II) dari spesifikasi ready to digital menjadi full digital dan selanjutnya akan membahasnya bersama Komisi I DPR RI dan LPP TVRI.


Dalam kesempatan tersebut kepada RK, Charles Honoris berpendapat sangat penting untuk memperluas area pelayanan kepada masyarakat khususnya dalam bidang informasi dan telekomunikasi, terutama di wilayah perbatasan. Supaya daerah perbatasan juga mempunyai kesempatan yang sama dengan daerah yang lain dalam ketersediaan dan kemudahan akses informasi sehingga masyarakat mampu mengembangkan beragam potensi dan ekonomi setempat. (RK) 


26 February 2015

Internet Kecamatan (MPLIK) di Mata Masyarakat

Guna mempercepat peningkatan keterjangkauan pemerataan layanan internet di masyarakat terpencil dan untuk mendorong perubahan daerah setempat, mencerdaskan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat; Kementerian Komunikasi dan Informasi (KEMKOMINFO) pada tahun 2011 telah meluncurkan program Mobil Pusat Layanan Internet Kecamatan (MPLIK). Ini merupakan gebrakan baru untuk memasyarakatkan internet dan meng-internet-kan masyarakat. MPLIK sebagai kelanjutan program Universal Service Obligation (USO Project) melalui PLIK–tanpa Mobil.

Dari segi mobilitas, MPLIK tentu lebih fleksibel ruang geraknya daripada PLIK, karena dapat berpindah-pindah tempat sesuai kebutuhan. Menurut data Kementerian tersebut, terdapat 1907 unit MPLIK yang tersebar di 32 propinsi. Keberadaan fisik MPLIK didukung oleh beberapa karoseri pemenang tender/lelang pengadaan MPLIK, yakni : Delimajaya Carrosserie, Karya Logam, Delima Mandiri, New Armada, Rahayu Sentosa, dan Tugas Anda. Dengan tujuan mulia tersebut, mestinya keberadaan, termasuk operasionalisasi MPLIK perlu mendapat pengawasan dan evaluasi dari waktu ke waktu. Bila keberadaannya sangat dibutuhkan masyarakat luas dan dirasakan masih kurang jumlahnya, tentunya armada MPLIK perlu ditambah. Tetapi bila keberadaannya kurang dimanfaatkan oleh masyarakat luas, mestinya perlu dicari penyebabnya, mengapa?. Apakah masyarakat kurang mendapat sosialisasi program ini, ataukah sebab yang lain misal budaya malu untuk melakukan sesuatu yang baru atau belum terbiasa? Seperti diketahui, bahwa, Proyek MPLIK merupakan singkatan dari Mobile Pusat Layanan Internet Kecamatan yang bersifat mobile (bergerak) untuk akses internet yang sehat, aman, cepat, dan murah. Fungsi dan tujuannya adalah melayani masyarakat umum yang berada di daerah-daerah kecamatan yang belum terjangkau oleh fasilitas internet. Penyedia mobil layanan internet kecamatan (M-PLIK) merupakan amanat dari pasal 5 peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika RI No. 48/PER/M.KOMINFO/11/2009 tentang penyedia jasa akses Internet pada wilayah pelayanan universal telekomunikasi Internet kecamatan, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika RI No. 19/PER/M.KOMINFO/12/2010.


MPLIK ini sinergi kegiatan Program KPU/ISO dengan Community Access Point (CAP), yang ditargetkan oleh Penyedia sebanyak 1.907 MPLIK yang nantinya akan tersebar diseluruh wilayah Indonesia. FGD Kajian Efektifitas Program Pendampingan Pemanfaatan Layanan KPU/USO|Program KPU (Kewajiban Pelayanan Universal) atau USO (Universal Service Obligation) adalah program pemerintah yang dilaksanakan oleh Balai Penyedia dan Pengelola Pembiayaan Telekomunikasi dan Informasi (BP3TI) Dirjen Penyelenggara Pos dan Informatika Kementrian Kominfo). Program tersebut bertujuan mempercepat pemerataan akses telekomunikasi dan informasi untuk daerah tertinggal, terpencil, perbatasan dan tidak layak secara ekonomi. Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai salah satu propinsi penerima program tersebut mendapat jatah 8 armada MPLIK (masing-masing untuk Kota Yogyakarta, Kab. Sleman dan Kab. Bantul sebanyak 2 unit, dan untuk Kabupaten Kulonprogo dan Gunungkidul sebanyak 1 unit). Kendaraan minibus tipe FOTON karoseri New Armada tersebut di bagian depan (dibawah kaca) sudah terpanpang tulisan KONMUTER dengan kepanjangan Konsumen Mudah Terlayani. KONMUTER perlu kita maknai juga sebagai Konsumen Murah Terlayani, karena layanan internet memang benar-benar murah (di counter MPLIK tertulis tarif internet Rp. 1.500,-/jam, atau lebih murah daripada warung-warung internet pada umumnya). Menurut keterangan operator, MPLIK beroperasi mulai jam 08.30 sampai dengan 15.30, dengan berpindah tempat setiap 10 hari. Kalau kita amati sekilas, penggunaan internet disini lebih didominasi anak-anak untuk bermain “game”, apalagi ketika mereka libur atau pulang pagi. Mestinya masyarakat luas pun perlu memanfaatkan media ini untuk pengembangan potensi mereka atau atau masyarakat. Dalam hal layanan lain yang dibutuhkan masyarakat dengan membayar secara online baik untuk rekening listrik, telpon (telkom) maupun rekening air, tentu sarana ini sangat membantu peningkatan aksesbilitas masyarakat.

Sesuai slogan “Jangan Biarkan yang Terpencil Kian Terkucil”, pertimbangan apakah yang menyebabkan 2 Kabupaten tertinggal di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (Kulonprogo dan Gunungkidul) dengan jangkauan pelosok yang lebih luas masing-masing hanya mendapat 1 unit MPLIK. Seandainya armada ditambah, tentu akan menciptakan lapangan kerja baru masyarakat setempat, yakni sebagai driver maupun operator. Akhirnya kita menunggu keberlangsungannya, apakah program ini akan menjadi sia-sia tak bermakna, ataukah bermakna mencerdaskan, serta mensejahterakan masyarakat, bangsa dan negara?

Pengertian Vsat Internet KU-BAND & C-BAND

VSAT (dalam bahasa Inggris, merupakan singkatan dari Very Small Aperture Terminal) adalah stasiun penerima sinyal dari satelit dengan antena penerima berbentuk piringan dengan diameter kurang dari tiga meter. Fungsi utama dari VSAT adalah untuk menerima dan mengirim data ke satelit. Satelit berfungsi sebagai penerus sinyal untuk dikirimkan ke titik lainnya di atas bumi. Sebenarnya piringan VSAT tersebut menghadap ke sebuah satelit geostasioner. Satelit geostasioner merupakan satelit yang selalu berada di tempat yang sama sejalan dengan perputaran bumi pada sumbunya yang dimungkinkan karena mengorbit pada titik yang sama di atas permukaan bumi, dan mengikuti perputaran bumi pada sumbunya.

Mendapatkan data Internet dari satelit sama dengan mendapatkan sinyal televisi dari satelit. Data dikirimkan oleh satelit dan diterima oleh sebuah alat decoder pada sisi pelanggan. Data yang diterima dan yang hendak dikirimkan melalui VSAT harus di-encode dan di-decode terlebih dahulu. Satelit Telkom-1 menggunakan C-Band (4-6 GHz). Selain C-Band ada juga KU-Band. Namun C-Band lebih tahan terhadap cuaca dibandingkan dengan KU-Band. Satelit ini menggunakan frekuensi yang berbeda antara menerima dan mengirim data. Intinya, frekuensi yang tinggi digunakan untuk uplink (5,925 sampai 6,425 GHz), frekuensi yang lebih rendah digunakan untuk downlink (3,7 sampai 4.2 GHz).

Sistem ini mengadopsi teknologi TDM dan TDMA. Umumnya konfigurasi VSAT adalah seperti bintang. Piringan yang di tengah disebut hub dan melayani banyak piringan lainnya yang berlokasi di tempat yang jauh. Hub berkomunikasi dengan piringan lainnya menggunakan kanal TDM dan diterima oleh semua piringan lainnya. Piringan lainnya mengirimkan data ke hub menggunakan kanal TDMA. Dengan cara ini diharapkan dapat memberikan konektifitas yang baik untuk hubungan data, suara dan fax. Semua lalu lintas data harus melalui hub ini, bahkan jika suatu piringan lain hendak berhubungan dengan piringan lainnya. Hub ini mengatur semua rute data pada jaringan VSAT.

Frame TDM selalu berukuran 5.760 byte. Setiap frame memiliki 240 sub-frame. Setiap sub-frame adalah 24 byte. Panjang waktu frame tergantung pada data rate outbound yang dipilih. TDMA selalu pada 180 ms. TDMA disinkronisasi untuk memastikan bahwa kiriman data yang berasal dari stasiun yang berbeda tidak bertabrakan satu dengan yang lainnya.

Pendapat umum mengatakan bahwa koneksi dengan satelit adalah koneksi yang paling cepat. Kenyataanya adalah tidak. Waktu yang dibutuhkan dari satu titik di atas bumi ke titik lainnya melalui satelit adalah sekitar 700 milisecond, sementara leased line hanya butuh waktu sekitar 40 milisecond. Hal ini disebabkan oleh jarak yang harus ditempuh oleh data yaitu dari bumi ke satelit dan kembali ke bumi. Satelit geostasioner sendiri berketinggian sekitar 36.000 kilometer di atas permukaan bumi.

KU-Band :

KU-band adalah bagian dari spektrum elektromagnetik dengan jarak frekuensi dalam gelombang mikro mencapai 11,7 hingga 12,7 GHz (downlink frequencies) dan 14 hingga 14,5 GHz (uplink frequencies). KU-band atau Kurtz-Under band terutama digunakan pada satelit komunikasi, khususnya untuk penerbitan dan penyiaran satelit televisi atau Direct Broadcast Television.

KU-band juga digunakan untuk sinyal telepon dan layanan komunikasi bisnis.

C-Band :

C-Band adalah nama yang diberikan kepada bagian tertentu dari spektrum elektromagnetik , serta berbagai panjang gelombang dari gelombang mikro yang digunakan untuk telekomunikasi radio jarak jauh. IEEE C-band dan variasi-variasi kecil nya  berisi rentang frekuensi yang digunakan untuk transmisi satelit komunikasi paralel oleh beberapa perangkat Wi-Fi, beberapa telepon nirkabel, dan beberapa sistem radar cuaca.

IEEE C-band adalah bagian dari spektrum elektromagnetik pada rentang frekuensi microwave berkisar 4,0-8,0 gigahertz, tetapi definisi ini adalah salah satu yang diikuti oleh produsen radar dan pengguna, namun tidak harus oleh pengguna telekomunikasi radio microwave.

Topology

Ilustrasi biaya:

VSAT KU BAND
Perangkat Rp13.500.000
Ongkos Pasang Rp2.500.000
Pedestal Rp1.000.000
Aktifasi Rp2.500.000
Jumlah A Rp19.500.000
PPN 10% Rp1.950.000
Rp21.450.000
Biaya Lain2    Tergantung Tujuan
Biaya kirim ke lokasi Rp3.000.000  
Tiket Teknisi Rp5.000.000
Akomodasi dll Rp5.000.000
Jumlah B Rp13.000.000
Paket Personal (Sampai Dengan) Harga belum PPN 10%
Tanpa SLA, Tanpa CIR,
Paket Kecepatan Tarif  PPN Total
Down Up Rp 10% Rp
A up to 1024 Up to 128 3.000.000 300.000 3.300.000
B up to 2048 Up to 256 4.200.000 420.000 4.620.000
C up to 2048 Up to 512 5.500.000 550.000 6.050.000
Paket CIR 1:4
Paket Kecepatan Tarif PPN Total
Down Up Rp 10% Rp
A4 512/1:4 512 /1:4 3.750.000 375.000 4.125.000
B4 1028/1:4 512/1:4 5.500.000 550.000 6.050.000
C4 2048/1:4 512/1:4 8.750.000 875.000 9.625.000
Paket CIR 1:1
Paket  Kecepatan Tarif PPN  Total
 Down  Up Rp 10%   Rp
A1  512/1:1  512/1:1 9.000.000 900.000 9.900.000
B1  1024/1:1  512/1:1 14.000.000   1.400.000  15.400.000
C1  2048/1:1  1024/1:1 27.000.000 2.700.000 29.700.000